Perkembangan harga dinar per 10 menit


Gold Dinar to

Jumat, 12 September 2008

Tahap Berikutnya Dari Pengenalan Dinar : Saatnya Untuk Mulai Membuat Dinar Anda Berputar dan Produktif...

Islam sangat menganjurkan kita untuk memutar harta kita; bahkan kita hanya boleh menyimpan sebagian harta kita secukupnya apabila dalam konteks membangun ketahanan ekonomi kita. Kita sangat dilarang untuk menimbun harta. Lihat juga tulisan sebelumnya mengenai ‘Agar harta Tidak Hanya Berputar Di Segolongan Orang Kaya...’

Gerakan kita memperkenalkan Dinar, harus juga menghindari efek samping berupa penimbunan harta berupa Dinar atau emas. Bahkan Dinar atau emas yang disimpan saja – apabila melebihi nishabnya 20 Dinar – makin lama akan makin berkurang mendekati nishab ini karena setiap tahun harus dibayar zakatnya yang 2.5%.

Yang disebut satu tahun zakat adalah tahun qomariah atau tahun bulan, meskipun boleh juga dibayar atas dasar tahun syamsiah karena tidak ditemukan larangannya untuk ini.

Karena panjang tahun qomariah adalah 354 hari sedangkan tahun syamsiah 365 hari, maka apabila zakat dibayar mengikuti tahun syamsiah pengalinya berbeda dengan tahun qamariah. Misalnya zakat Dinar yang 2.5 % apabila dibayar berdasarkan tahun qomariah (misalnya setiap bulan Ramadhan), maka apabila di bayar atas dasar tahun syamsiah (misalnya dibayar setiap bulan Desember) menjadi 2.50 % X (365/354) = 2.58 %.

Meskipun Dinar atau Emas terkena zakat, tidak berarti investasi dan proteksi nilai berupa Dinar atau Emas menjadi kurang menarik. Ulama-ulama kontemporer sepakat, bahwa semua harta kita dalam bentuk apapun kalau sudah mencapai nishab-nya juga harus dibayar zakatnya. Berikut adalah contoh-contoh harta umat saat ini yang sudah ada tuntunan kewajiban dan perhitungan zakatnya :

A. Uang tunai atau yang setara dengan uang tunai seperti deposito, traveler check, promissory notes dan sejenisnya.
B. Dana Pensiun dan bagi hasil bagi karyawan
C. Emas dan Perak
D. Logam mulia atau batu permata yang tersedia untuk diperdagangkan
E. Stok barang dagangan
F. Piutang
G. Marketable Securities
H. Surat Saham
I. Produk pertanian
J. Peternakan
K. Pendapatan sewa
L. Real estate (yang dibisniskan)
M. Keuntungan tidak terduga
N. Barang-barang yang diproduksi untuk diperdagangkan
O. Patent, merek dagang dan kekayaan intangible yang memiliki nilai yang jelas.
P. Dan lain sebagianya.

Pembahasan detil masalah zakat ini diluar konteks blog saya, namun kalau ada yang berminat bisa saja nanti saya bahas diwaktu lain.

Nah asumsinya Anda saat ini sudah memiliki Dinar dan lebih dari nishab 20 Dinar; bagaimana agar Dinar Anda tersebut dapat produktif memberikan hasil agar cukup untuk membayar zakat dan masih ada pertumbuhannya ?.

Alhamdulillah setelah melakukan beberapa percobaan Per 1 Maret 2008 Gerai Dinar menawarkan program Qirad atau Mudharabah dari Modal berupa Dinar Anda.

Mudharabah adalah bentuk kerjasama dimana salah satu pihak yaitu Anda (disebut Shahib al Mal atau Rabb al Mal) menyediakan sejumlah dana tertentu untuk modal dan pihak ini tidak melibatkan diri dalam pengelolaan usaha, pihak lain Gerai Dinar (mudharib) bertindak sebagai entrepreneur dan pengelola usaha. Tidak terbatas pada dua orang, Akad Mudharabah ini dapat dilakukan oleh beberapa Shahib al Mal dan beberapa Mudharib. Mudharabah juga disebut Qirad dan istilah Qirad ini yang sering dipakai dalam mazab Maliki dan Syafi’i.

Meskipun Akad Mudharabah dapat dilakukan secara lesan maupun tulisan, sangat dianjurkan untuk menuangkan Akad ini dalam perjanjian tertulis dengan menghadirkan saksi-saksi untuk menghindari kesalah pahaman dan persengketaan di kemudian hari. Contoh Akad Qirad Dinar ini ada di Gerai Dinar bagi yang berminat.

Mudharabah dapat dilakukan secara terbuka maupun secara terbatas. Dalam Mudharabah terbuka, kerjasama tidak dibatasi waktu, tempat, jenis usaha, jenis industri, pasar, customers, suppliers dlsb. Apabila ada satu saja pembatas, maka Mudharabah yang demikian disebut sebagai Mudharabah terbatas. Dalam hal Mudharabah dilakukan secara terbatas maka Mudharib harus mematuhi batasan-batasan yang disepakatinya dengan Shahib al Mal.

Pada tahap awal ini program yang kami tawarkan adalah Mudharabah terbatas – dibatasi pada usaha yang terkait langsung dengan Gerai Dinar – yaitu usaha pengadaan Dinar dan penjualannya ke masyarakat yang saat ini alhamdulillah sudah berjalan baik.

Banyak mudharib lain yang sudah mulai menawarkan usahanya untuk dibiayai dengan system ini, seperti usaha pengadaan pangan organic yang sangat propspektif saat ini, namun ini langkah berikutnya setelah kita yakin betul bahwa program mudharabah yang sangat aman untuk pengadaan Dinar ini berjalan dengan baik dan semua pihak merasa comfortable.

Mudharib (Gerai Dinar) dapat membebankan biaya-biaya yang langsung terkait dengan usaha yang di –Mudharabah-kan sebagai beban account Mudharabah. Untuk usaha Gerai Dinar, beban biaya ini meliputi biaya pengadaan Dinar, transportasi, penyimpanan, asuransi, layanan nasabah (biaya sms gateway, web dlsb.) dan pajak.

Persentase pembagian keuntungan disepakati didepan antara Mudharib (geraiDinar) dan Shahib al Mal (Anda). Untuk tahab awal ini persentase pembagian keuntungan yang kita tawarkan adalah 50%/50%.

Contoh aplikasi Mudharabah dan perhitungannya ini dapat dilihat pada illustrasi berikut :

• Asumsinya Anda meng-Qirad-kan 20 Dinar ke Gerai Dinar.
• Setiap saat 20 Dinar Anda berhasil dijual oleh Gerai Dinar ke masyarakat, segera hasil penjualan Dinar Anda dibelikan Dinar kembali ke Logam Mulia oleh Gerai Dinar – Agar Modal Anda senantiasa terjaga dalam nilai Dinar.
• Karena besarnya volume pembelian Gerai Dinar ke Logam Mulia, maka, maka 20 Dinar milik Anda ikut menikmati selisih harga pembelian Gerai Dinar ke Logam Mulia.
• Asumsikan saja misalnya hasil penjualan Anda setelah dibelikan kembali, sekarang menjadi 21 Dinar.
• Dari 1 Dinar tambahan tersebut, harus kami keluarkan cadangan pajak netto 2% x 20 Dinar =0.4 Dinar ; biaya-baya operasi, layanan dlsb 1% x 20 Dinar = 0.2 Dinar. keuntungan bersih 0.4 Dinar.
• Bagi hasil 50%/50% ; maka Anda mendapatkan 0.2 Dinar dan Gerai Dinar juga mendapatkan 0.2 Dinar.
• Asumsinya kami dapat menjual kembali 2 minggu setelah Dinar Anda kita terima kembali dari logam Mulia yang juga memakan waktu kurang lebih 2 minggu untuk membuatnya; maka secara teoritis modal Anda akan berputar kurang lebih sekali dalam satu bulan.
• Apabila kami sukses menjual 1 kali dalam satu bulan, maka dalam 12 bulan Modal Anda telah menjadi 20 Dinar + 0.2* 12 = 22.4.
• Atau bila diambil amannya kami hanya berhasil menjual/memutar sekali dalam 2 bulan, maka maka Dinar Anda menjadi 20 Dinar + 0.2*6 = 21.20
• Kok kecil pertumbuhannya hanya sekitar 6%-12% ?’, ingat ini pertumbuhan dalam angka Dinar. Karena Dinarnya sendiri tumbuh rata-rata 29% selama 40 tahun terakhir, maka dalam Rupiah uang Anda sebenarnya tumbuh diatas 40 % - lihat tulisan saya tentang Dinar Investment Yield.
• Jadi pertambahan nilai ini akan lebih dari cukup untuk membayar zakat Anda yang 0.5 Dinar untuk setiap kelipatan kepemilikan 20 Dinar.

Angka- angka tersebut tidak mengikat karena akan menjadi Riba apabila kita janjikan angka yang pasti.

Untuk menjaga transparansi informasi setiap Shahibul Mal akan diberi akses khusus via sms untuk dapat mengikuti perkembangan modal dan bagi hasilnya.

Atau yang lebih aman lagi, Anda dapat menyimpan sendiri Dinar Anda dan cukup didaftarkan ke Gerai Dinar bahwa Dinar Anda standby untuk di-Qirad-kan. Maka kami hanya akan Ambil setiap saat akan ditransaksikan dan segera dikembalikan ke Anda setelah pesanan kembali dari Logam Mulia diterima. Saya sendiri prefer cara ini, sehingga ada beberapa Shahib al Mal yang sampai saat ini masih kami minta pegang dahulu Dinar-nya.

Dengan model investasi ini, Dinar Anda bebas dari ancaman menimbun – karena menjadi barang dagangan yang siap diperjual belikan kapan saja– hasilnya insyaallah lebih dari cukup untuk membayar zakat; dan kalau toh tidak laku dijual – nilai barang dagangan tersebut naik dengan sendirinya seperti statistik 40 tahun terakhir.

Dengan model ini pula Anda meningkatkan status investasi Anda dari investasi terbaik kedua, Apabila hal ini sukses, insyaallah tahab berikutnya lagi kita cari bersama Al-Amin – Al-Amin zaman sekarang di berbagai bidang usaha untuk kita danai bersama dengan model pendanaan yang sangat Adil seperti Qirad/Mudharabah ini.

Illustrasi lebih detil mengenai program Qirad ini dapat Anda lihat di tulisan kami tanggal 9/3/2008. Amin.

Baca Juga Tulisan Saya Berikutnya :

1. Qirad Untuk Pengembangan Ekonomi Umat.

2. Mengenal Lebih Jauh Tentang Qirad.

3. Cara Memproduktifkan Dinar Anda

M Iqbal

Cara Memproduktifkan Dinar Anda...

Alhamdulillah sejak saya menulis tentang cara memproduktifkan Dinar yang sudah dimiliki oleh nasabah-nasabah kami pada artikel Langkah Berikutnya Dari Pengenalan Dinar , kami memperoleh response yang subhanallah banyaknya.

Namun karena ini hal baru bagi kita semua, pertanyaan-pertanyaan yang timbul seputar program Qirad ini juga tidak semuanya mudah saya jelaskan atau tidak semuanya mudah dimengerti. Untuk membantu penjelasan tersebut, berikut saya tampilkan illustrasi grafis-nya untuk program ini. Maaf illustrasi ini saya buat dalam bahasa Inggris agar saya tidak dua kali kerja, karena memenuhi permintaan pembaca kami - blog ini sekarang juga mulai tampil dalam dua bahasa.

Dinar Based Qirad System

Penjelasannya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

1) Apabila Anda tertarik mengqiradkan Dinar Anda; Anda dapat menyerahkan Dinar Anda kepada kami atau didaftarkan kepada kami bahwa Dinar Anda tersedia untuk diperdagangkan. Tidak perlu ragu, perdagangan emas/Dinar dengan Rupiah ini boleh berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh seluruh perawi besar kecuali Al-Bukhari yang berbunyi, dari ’Ubadah ibn Al-Samid: ”Emas dengan Emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras gandum dengan beras gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama banyak, dari tangan ke tangan, apabila jenis yang dipertukarkan berbeda, maka perdagangkan semau kamu asal dari tangan ke tangan” . Yang tidak boleh adalah perdagangan uang dari jenis yang sama (misalnya Rupiah dengan Rupiah) tetapi dengan jumlah yang berbeda - karena ini berarti Riba.
2) Setelah Dinar kami terima atau ada dicatatan Gerai Dinar, maka Dinar mulai diperdagangkan dan pembeli membayar dengan uang Rupiahnya ke Gerai Dinar
3) Dari uang Rupiah hasil penjualan Dinar, Gerai Dinar memesan Dinar kembali ke Logam Mulia.
4) Setelah Logam Mulia selesai memproduksi dan menyerahkan ke Gerai Dinar, Gerai Dinar mengambil sebagian kelebihan-nya untuk alokasi pajak netto (selisih antara pajak keluaran dan pajak masukan), biaya operasi dan biaya penganguktan/asuransi yang jumlahnya kurang lebih 3 %
5) Hasil bersih setelah dikurangi biaya-biaya di butir 4 ; misalnya sekitar 2% ; maka yang 2 % inilah yang dibagi dua antara pemilik modal Qirad dan Gerai Dinar.
6) Modal Qirad dan bagi hasil-nya diserahkan kembali ke pemilik modal; atau apabila disepakati kedua belah pihak dapat diputar kembali untuk putaran perdagangan berikutnya.


Begitu seterusnya sehingga Dinar Anda terjaga dalam Dinar sekaligus juga tumbuh melalui perdagangan yang diijinkan dan bukan melalui Riba yang dilarang.

Baca Juga Tulisan Saya Berikutnya :

1. Qirad Untuk Pengembangan Ekonomi Umat.

2. Mengenal Lebih Jauh Tentang Qirad.

M Iqbal

Mengenal Lebih Jauh Tentang Qirad...

Diantara para ulama fiqih ada yang beranggapan dua hal ini sama namun ada juga yang beranggapan dua hal ini berbeda. Yang beranggapan sama antara lain Dr. Wahbah Al-Zuhayli dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami Wa-Adillatuh dimana beliau menjelaskan bahwa Qirad dan Mudarabah hanya masalah perbedaan penyebutan dari asal daerah yang berbeda. Istilah Qirad berasal dari Hijaz sedangkan Mudarabah dari Iraq.

Qirad menekankan pada aspek pinjaman modal dan penyerahan sebagian keuntungan untuk si peminjam, sedangkan Mudharabah menekankan pembagian keuntungan antara pemilik modal dan pengusaha yang menerima modal.

Konsesnsus syahnya kontrak Qirad adalah berdasarkan ijma’ para ulama berdasarkan tradisi para sahabat Rasulullah SAW. Salah satunya adalah yang diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwatta’ bahwa ; “ Abdullah dan Ubaydillah keduanya putra Umar bin Khattab RA. ketika dalam perjalanan bersama pasukannya di Iraq, mereka singgah menemui Abu Musa Al-Ashary yang merupakan salah satu pegawai dalam pemerintahan Umar bin Khattab RA. Ia menawarkan pada keduanya bantuan, tawarannya adalah ia akan memberikan uang yang terhutang ke perbendaharaan negara, mereka kemudian dapat menggunakan uang tersebut untuk membeli barang di Iraq untuk dijual di Madinah, mengambil untungnya, kemudian menyerahkan pokoknya kepada bapaknya. Mereka melakukan sesuai yang disarankannya, kemudian datang kepada bapaknya, kemudian Amirul Mukminin sangat marah. Ia bertanya apakah Abu Musa memberikan hal yang sama kepada anggota pasukan mereka berdua, mereka menjawab tidak. Ia kemudian marah dan berkata, “ Kalian adalah putra-putra Amirul Mukminin sehingga ia meminjami kalian uang untuk mendapatkan keuntungan ?”. Kemudian Ubaydillah berkata, “ Ya Amirul Mukminin, kalau uang tersebut habis kami tentu menjaminnya”. Tetapi Umar RA tetap tidak ingin mereka mengambil keuntungannya. Ketika Ubaydillah kembali mengungkapkan alasannya, salah satu yang hadir berkata, “ Ya Amirul Mukminin, mungkin engkau bisa menjadikannya Qirad (yaitu berikan separuh keuntungan untuk mereka, dan berikan separuh lagi ke perbendaharaan negara). Umar menyetujui pengaturan ini.

Selanjutnya saya akan lebih sering menggunakan istilah Qirad dibandingkan Mudarabah karena istilah Qirad ini yang juga sering dipakai dalam mazab Syafi’i.

Qirad atau Mudharabah akan menjadi solusi pembiayaan yang adil bagi pemilik modal dan para entrepreneur sekaligus menjadi alternatif dari sistem ribawi yang sudah seharusnya ditinggalkan umat ini.

Syarat utama Qirad atau Mudharabah adalah :

1. Modal harus tunai atau setara tunai seperti dalam bentuk Dinar dan Dirham atau uang kertas. (mengenai keharusan tunai atau setara tunai ini, ada perbedaan pendapat diantara empat mazab. Imam Shafi’i adalah satu-satunya yang berpendapat harus tunai. Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Hambali ketiganya berpendapat bahwa modal bisa berupa harta benda yang tidak bersifat tunai namun yang dihitung sebagai modal bukan harta benda tersebut melainkan nilai setara tunainya .)
2. Modal diketahui dengan jelas sehingga dapat dibedakan antara modal dan keuntungan.
3. Pembagian keuntungan harus jelas prosentasenya, untuk pihak penerima modal(entrepreneur) dan pemilik modal. Mudharabah atau Qirad batal apabila salah satu atau kedua pihak menentukan jumlah tertentu (bukan prosentase) dari bagi hasil.
4. Penerima modal adalah penerima amanah, wajib menjaga amanah sepenuhnya meskipun tidak ikut menanggung kerugian apabila kerugian bukan karena kesengajaannya.
5. Qirad dapat bersifat terbuka ataupun terbatas. Dalam Qirad terbuka, penerima modal tidak dibatasi dengan jenis usaha, pasar, tempat dlsb. Dalam qirad terbatas, penerima modal harus berusaha dalam batasan yang disepakati dengan pemilik modal.


Pembiayaan melalui Qirad atau Mudharabah akan memudahkan orang-orang yang jujur, adil, hati-hati dan memiliki kompetensi untuk bidang usaha yang ditekuninya untuk menerima amanah dari para pemilik modal – dan untuk ini tidak diperlukan jaminan yang sifatnya materi. Sebaliknya bagi orang yang tidak memiliki salah satu dari syarat tersebut akan kesulitan untuk memperoleh pembiayaan meskipun orang tersebut memiliki jaminan materi yang banyak jumlahnya.

Sistem pembiayaan semacam ini akan menciptakan lingkungan usaha yang berpegang pada tata-nilai atau values yang membentuk akhlaq yang luhur bagi para pelakunya. Orang-orang yang tidak bisa jujur, tidak bisa adil, tidak hati hati dan tidak pula memiliki kompetensi akan dengan sendirinya tersingkir dari lingkungan usaha. Sebaliknya dunia usaha akan didominasi oleh orang-oarng yang adil, jujur, hati-hati dan memiliki kompetensi yang tinggi. Generasi pengusaha yang semacam inilah nantinya yang akan memakmurkan umat Islam secara keseluruhan dan mengembalikan kejayaan Islam pada waktunya.

I-Qirad : Just Financing Ini teori dan dasar hukum produk Qirad yang kami kembangkan di GeraiDinar. Biar keren dizaman informasi ini produk qirad ini kami berinama I-Qirad; yang insyaallah apabila berkembang secara luas di pasar global akan memiliki domain sendiri yaitu www.i-qirad.com. Contoh aplikasi yang sudah jalan dan rencana pengembangannya insyaallah akan saya tulis berikutnya.

Qirad Untuk Pengembangan Ekonomi Umat…

Pada tanggal 16 Januari 2008 lalu saya menulis tentang perintah untuk memutar harta secara luas sebagai implikasi dari larangan melakukan sebaliknya di Ayat Al-Quran 59:7 “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…”.

Di tulisan tersebut juga saya ungkapkan bagaimana teori kwantitas khususnya persamaan pertukaran atau equation of exchange M x V = P x Q (dimana M = jumlah uang, V= perputaran uang ; P = tingkat harga dan Q = jumlah barang dan jasa) apabila diterapkan dalam ekonomi yang bebas riba akan dapat memakmurkan umat.

Pada tulisan kali ini saya ingin memberikan contoh kecil bagaimana konsep harta berputar ini kita coba terapkan di System Qirad yang telah kita perkenalkan sebelumnya. Insyaallah kita akan dapat melihat betapa dasyatnya ayat-ayat Allah apabila benar-benar dapat kita terapkan - meskipun masih dalam skala kecil.

Mari kita gunakan persamaan pertukaran tersebut diatas untuk membandingkan dua kondisi berikut.

Pertama Anda memiliki uang satu Dinar (M=1) dan disimpan dalam satu tahun (V=1), anggap tingkat harga pada satu satuan (P=1), ekonomi yang berhasil Anda putar dengan 1 Dinar Anda dalam satuan ekonomi (barang atau jasa) juga bernilai satu (1 x 1 = 1 x M). Satu Dinar yang berputar sekali dalam satu tahun menggerakkan satu satuan ekonomi - yaitu produksi 1 keping Dinar itu sendiri.

Pada kondisi kedua mari kita ubah kecepatan perputarannya, V tidak lagi satu melainkan enam artinya satu Dinar Anda berputar sekali dalam 2 bulan. Maka satuan ekonomi yang berhasil diputar oleh uang Anda akan menjadi 6 (1 X 6 = 1 x M ) - yaitu produksi 6 keping Dinar.

I-Qirad : Dinar Minting Financed by QiradKarena program Qirad yang kita perkenalkan baru program Qirad terbatas yaitu untuk pengadaan Dinar, maka setiap keping Dinar yang Anda Qiradkan insyaallah dapat membantu tercetaknya 6 keping Dinar yang dibutuhkan orang lain. Lihat ilustrasi disamping untuk menggambarkan hal ini. Bagaimana kalau ada 1,000 Dinar di Qirad-kan ?, bagaimana pula apabila ada 1,000,000 Dinar di Qirad-kan ?. Hari-hari ini Dinar lagi murah, jadi insyaallah akan lebih banyak Dinar yang bisa kita produksi dari uang fiat kita yang kita pakai untuk memproduksi Dinar - selagi uang fiat kita masih bernilai tinggi.

Dari sini sebenarnya tidak terlalu sulit bagi kita untuk membayangkan (atau lebih tepatnya mem-visi-kan), bagaimana Dinar akan kembali berada di tengah umat bersamaan dengan kesadaran umat untuk mengamalkan tuntunan Agama ini dengan sungguh-sungguh. Jadi bukan jumlahnya yang penting, perputarannya-lah yang lebih penting. Perintah Allah juga bukan memperbanyak harta - tetapi perintah untuk memutarnya.

Tentu tidak hanya berhenti disini, dalam waktu yang tidak terlalu lama insyaallah kita akan dapat memilih program investasi riil yang dapat didanai dengan System Qirad ini. Sejak kita perkenalkan Qirad akhir bulan lalu, setidaknya saya sudah bertemu dengan dua kelompok usaha yang sangat mungkin didanai dengan system Qirad ini.

Kelompok usaha pertama adalah usaha dibidang pangan organik; ini produk masa depan karena masyarakat semakin concern terhadap kesehatan dan upaya untuk mempertahankannya.

Kelompok usaha kedua adalah terkait dengan tulisan saya tentang Kenaikan Harga dan Kelangkaan yang antara lain mengulas potensi tenaga angin.

Atas scenario Allah juga, dalam kesempatan saya bertemu dengan salah satu gubernur negeri ini – saya ditemui bersama seorang pengusaha besar yang sudah memproduksi pembangkit listrik tenaga angin skala kecil dan menengah. Yang kita teorikan…bahkan ternyata sudah dibuat di negeri ini…!.

Meskipun dua usaha tersebut sangat potensial, saya tidak buru-buru untuk merekomendasikan untuk Anda Qirad-kan kesana dana Anda - sampai saya sendiri mengenal betul mereka dan usahanya. Saya akan me-review dahulu untuk beberapa lama sampai saya benar-benar yakin bahwa ini investasi yang baik – dunia akhirat- , baru setelah itu saya akan tawarkan dalam bentuk Qirad terbatas pada pembaca yang punya minta pada usaha-usaha tersebut. Begitu seterusnya insyaallah untuk usaha-usaha lain sampai Dinar benar-benar memutar ekonomi umat.

Jalan masih panjang, namun setelah kita melakukan apa yang kita tahu – Insyaallah Allah akan selalu membimbing kita dan memberi petunjuk atas hal yang kita belum tahu. Wallahu A’lam.

M Iqbal

Delapan Hal Yang Harus Diketahui Tentang Emas ...

Ketika kita bicara tentang Dinar Islam, ini selalu berarti emas. Oleh karenanya segala sesuatu yang terjadi dalam pasar emas, juga berlaku bagi Dinar.

Berikut saya sarikan tulisan dari James Turk pendiri GoldMoney tentang Delapan Hal Yang Harus Diketahui Tentang Emas – saya hanya mangambil idenya sedangkan angka-angka dan aplikasi saya ubah untuk menyesuaikan dengan Rupiah atau data yang lebih update.

1) Emas adalah komoditi yang spesial dan unik : Emas digali dari perut bumi dan terakumulasi di permukaan bumi. Emas tidak dikonsumsi, jadi jumlahnya terus bertambah. Meskipun demikian emas selalu menjadi barang langka karena seluruh emas yang ada di permukaan bumi saat ini diperkirakan hanya berkisar antara 150,000 ton – 160,000 ton saja.

2) Suply emas dunia terbatas pada yang berada di permukaan bumi : Karena tidak dikonsumsi, maka total supply emas di seluruh dunia sama dengan jumlah seluruh emas di permukaan bumi. Kenaikan setiap tahun supply ini berkisar antara 1.5% - 1.7%.

3) Emas adalah uang sepanjang zaman : Emas selalu menjadi uang dalam sejarah manusia – diakui ataupun tidak. Fakta pemerintahan-pemerintahan di dunia mengendalikan nilai uang kertasnya dengan mempengaruhi supply emas di pasar adalah sebuah pengakuan bahwa emas lah yang sebenarnya uang itu.

4) Emas adalah alternatif dari US$ dan mata uang kertas lainnya : Seluruh mata uang kertas turun nilainya dari waktu ke waktu karena uang baru selalu bisa dicetak kapan saja dan berapa saja pemerintah mau. Emaslah yang memiliki daya beli yang nyata – bukan US$ , Rupiah atau mata uang kertas lainnya.

5) Daya beli Emas stabil sepanjang zaman : Untuk ini saya sudah menulis di setidaknya dua artikel sebelumnya. Satu tulisan berdasarkan statistik modern dan satu lagi berdasarkan keimanan pada Al-Qur'an dan Al-Hadits.

6) Nilai emas ditentukan oleh pasar : Meskipun pemerintahan-pemerintahan di dunia berusaha mempengaruhi harga emas dunia, kemampuan mereka terbatas dan makin lama- makin habis pengaruhnya. Lihat tulisan saya kemarin tentang cadangan emas di bank- bank sentral seluruh dunia yang terus menurun karena digunakan untuk usaha mempengaruhi harga emas dunia.

7) Emas selalu dalam kondisi ‘Bull Market’ : Tahun 1994 harga 1 Dinar adalah Rp 111,000; hari ini 1 Dinar berharga Rp 1,150,000. Artinya emas harganya naik 10 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Apa yang menghalangi harga emas untuk naik 10 kali lipat lagi dalam 14 tahun kedepan ? Tidak ada !. Artinya bisa saja harga 1 Dinar akan mencapai Rp 11.5 juta pada saat anak Anda yang baru lahir sekarang – masuk SMA ! di tahun 2022 . Tapi ingat , dalam jangka pendek harga emas selalu bergejolak naik-turun seperti yang terjadi hari-hari ini.

8) Beli emas dalam bentuk fisik (berupa koin atau batangan) dan jangan membeli emas hanya dalam bentu sertifikat : jangan terlalu mengandalkan sistem perdagangan modern yang menggantungkan pada surat berharga, surat hutang dan sejenisnya – meskipun di back-up dengan emas. Penggunaan emas secara fisik jauh lebih aman untuk keperluan investasi dan proteksi nilai.

Semoga bermanfaat.

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Pertanyaan ini sering sekali sampai ke saya dalam berbagai keempatan, Baik lewat email, kesempatan tanya jawab dalam ceramah atau bahkan banyak sekali pembeli Dinar sebelum mereka mulai membeli – mereka menanyakan dahulu masalah ini.

Ketiga-tiganya tentu memiliki kesamaan karena bahannya memang sama. Kesamaan tersebut terletak pada keunggulan investasi tiga bentuk emas ini yaitu semuanya memiliki nilai nyata (tangible), senilai benda fisiknya (intrinsic) dan dan nilai yang melekat/bawaan pada benda itu (innate). Ketiga keunggulan nilai ini tdak dimiliki oleh investasi bentuk lain seperti saham, surat berharga dan uang kertas.

Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi – kalau tidak ada campur tangan berbagai pihak dengan kepentingannya sendiri-sendiri otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.

Sebaliknya default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.

Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ? Disini saya berikan perbandingannya saja yang semoga objektif sehingga pembaca bisa memilih sendiri - Agar keputusan Anda tidak terpengaruh oleh pendapat saya – karena kalau pendapat saya tentu ke Dinar karena inilah yang saya masyarakatkan.

Kelebihan Dinar :
1. Memiliki sifat unit account ; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar – hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan di simpan yang 95 Dinar.
2. Sangat liquid untuk diperjual belikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab Zakat misalnya ditentukan dengan Dinar atau Dirham - umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai Jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31 %, maka setelah dipotong biaya 4 % tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjual belikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar :
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3% - 5 % dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

Kelebihan Emas Lantakan :
1. Tidak terkena PPN
2. Apabila yang kita beli dalam unit 1 kiloan – tidak terkena biaya cetak.
3. Nilai jual kembali tinggi.

Kelemahan Emas Lantakan :
1. Tidak fleksibel; kalau kita simpan emas 1 kg, kemudian kita butuhkan 10 gram untuk keperluan tunai – tidak mudah untuk dipotong. Artinya harus dijual dahulu yang 1 kg, digunakan sebagian tunai – sebagian dibelikan lagi dalam unit yang lebih kecil – maka akan ada kehilangan biaya penjualan/adiminstrasi yang beberapa kali.
2. Kalau yang kita simpan unit kecil seperti unit 1 gram, 5 gram, 10 gram – maka biaya cetaknya akan cukup tinggi.
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena adanya kendala ukuran. Pengguna yang butuh 100 gram, dia tidak akan tertarik membeli dari pengguna lain yang mempunyai kumpulan 10 gram-an. Pengguna yang akan menjual 100 gram tidak bisa menjual ke dua orang yang masing-masing butuh 50 gram dst.

Kelebihan Emas Perhiasan :
1. Selain untuk investasi, dapat digunakan untuk keperluan lain – dipakai sebagai perhiasan.

Kelemahan Perhaiasn :
1. Biaya produksi tinggi
2. Terkena PPN
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena kendala model dan ukuran.

Dari perbandingan-perbandingan tersebut, kita bisa memilih sendiri bentuk

M Iqbal

Mengenal Dinar dan Dirham Islam

Karena banyaknya pengunjung yang mengira bahwa Dinar Iraq dan lain sebagainya adalah sama dengan Dinar Islam. Maka perlu saya buat penjelasan yang sangat jelas bahwa Dinar Iraq dan sejenisnya adalah tidak sama dan bukan Dinar Islam. Dinar Iraq adalah uang kertas biasa, sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat 4.25 gram.

Lebih jauh agar kita mengenal Dinar Islam ini lebih dekat, berikut saya petikkan uraian dari buku saya (Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham) yang menjelaskan detil tentang Dinar Islam.

Islamic Dinar and DirhamUang dalam berbagai bentuknya sebagai alat tukar perdagangan telah dikenal ribuan tahun yang lalu seperti dalam sejarah Mesir kuno sekitar 4000 SM – 2000 SM. Dalam bentuknya yang lebih standar uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Caesar ini pula yang memperkenalkan standar konversi dari uang emas ke uang perak dan sebaliknya dengan perbandingan 12 : 1 untuk perak terhadap emas. Standar Julius Caesar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204.

Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.

Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, ”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud).

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.

Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.

Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .

Sampai pertengahan abad ke 13 baik di negeri Islam maupun di negeri non Islam sejarah menunjukan bahwa mata uang emas yang relatif standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal perkembangannya-pun kaum muslimin banyak melakukan perjalanan perdagangan ke negeri yang jauh. Keaneka ragaman mata uang di Eropa kemudian dimulai ketika Republik Florence di Italy pada tahun 1252 mencetak uangnya sendiri yang disebut emas Florin, kemudian diikuti oleh Republik Venesia dengan uangnya yang disebut Ducat.

Pada akhir abad ke 13 tersebut Islam mulai merambah Eropa dengan berdirinya kekalifahan Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan terjadilah penyatuan dari seluruh kekuasan Kekhalifahan Usmaniyah.

Selama tujuh abad dari abad ke 13 sampai awal abad 20, Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan. Penggunaan Dinar dan Dirham meliputi seluruh wilayah kekuasaan Usmaniyah yang meliputi tiga benua yaitu Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara dan sebagian Asia.

Pada puncak kejayaannya kekuasaan Usmaniyah pada abad 16 dan 17 membentang mulai dari Selat Gibraltar di bagian barat (pada tahun 1553 mencapai pantai Atlantik di Afrika Utara ) sampai sebagian kepulauan nusantara di bagian timur, kemudian dari sebagian Austria, Slovakia dan Ukraine dibagian utara sampai Sudan dan Yemen di bagian selatan. Apabila ditambah dengan masa kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai dari awal kenabian Rasululullah SAW (610) maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang dipakai paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.

Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman haqiqi atau thaman khalqi) sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal sebagai fulus dan menjadi alat tukar berdasar kesepakatan atau thaman istilahi. Dari sisi sifatnya yang tidak memiliki nilai intrinsik sebesar nilai tukarnya, fulus ini lebih dekat kepada sifat uang kertas yang kita kenal sampai sekarang .

Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi sebelumnya dan Dirham sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam namun setelah turunnya Islam tidak dilarang atau bahkan juga digunakan oleh Rasulullah SAW– maka hal itu menjadi ketetapan (Taqrir) Rasulullah SAW yang berarti menjadi bagian dari ajaran Islam itu sendiri, Dinar dan Dirham masuk kategori ini.

Islamic Dinar & Dirham Produced by Logam Mulia Indonesia - With The Weight & Purity Certification By KAN (Indonesia) an LBMA (UK -London) Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia - PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association (LBMA).

Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.

Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..

M Iqbal

Berapa Penghasilan Dalam Dinar Yang Kita Butuhkan Setelah Pensiun...?

Ahad lalu saya sudah mulai menulis bagaimana menentukan kebutuhan Dinar kita untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Pada tulisan saya yang pertama tersebut saya menulis cara
menghitung kebutuhan Dinar tunai seperti untuk biaya pendidikan, biaya naik haji dlsb.

Kali ini saya ingin menulis bagaimana menghitung kebutuhan penghasilan atau biaya rutin dalam Dinar sekian tahun yang akan datang ( masa pensiun), dengan struktur penghasilan dan biaya yang kita rencanakan dari sekarang. Prinsip dasar bahwa Dinar tidak terpengaruh inflasi akan sangat memudahkan kita membuat perencanaan kebutuhan jangka panjang ini.

Secara garis besar misalnya saat ini kita hidup cukup longgar dengan biaya 10 Dinar sebulan, maka selama pensiun nanti belasan tahun yang akan datang kita insyaallah tetap akan dapat menikmati kwalitas hidup yang sama dengan 10 Dinar per bulan ini – hal yang sama tidak akan pernah bisa apabila uang kita Rupiah, US$ ataupun mata uang kertas lainnya.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa elemen-elemen penghasilan dan biaya saat itu kemungkinan besar berubah. Perubahan –perubahan inilah yang harus kita antisipasi dan kita gunakan untuk melakukan adjutment dari kebutuhan biaya kita sekarang. Berikut adalah butir-butir yang perlu dipersiapkan dari sekarang :

1) Pada saat pensiun, dari mana penghasilan rutin kita. dari tabungan ?, dari dana pensiun tempat kerja kita ? atau dari usaha yang kita sudah rintis ? . Apabila penghasilan tersebut dari tabungan atau dari dana pensiun, maka lebih cepat Anda menukarnya dengan Dinar akan lebih baik – karena apabila tetap tersimpan dalam mata uang kertas nilainya akan terus menyusut – lihat tulisan saya mengenai Inflasi yang Menghanguskan.... Beruntunglah Anda apabila saat ini telah merintis usaha, karena investasi terbaik – bahkan lebih baik dari Dinar – adalah usaha riil yang berjalan baik. Untuk yang terakhir ini lihat tulisan saya mengenai Sebagai Instrumen Investasi, Dinar Hanya Peringkat Kedua...
2) Semakin tua tentu kita ingin semakin banyak beramal, bukan sebaliknya. jadi dana untuk beramal dalam bentuk apapun juga harus kita rencanakan. Idealnya kalau kita bisa sampai mengalokasikan sepertiga dari penghasilan/kekayaan kita untuk infaq/sedeqah. Lihat pula Prinsip 1/3 dari tulisan saya sebelumnya.
3) Sedapat mungkin tidak ada pinjaman yang harus dibayar/dicicil selama kita pensiun. Usahakan seluruh hutang jangka panjang untuk beli rumah misalnya – tidak melewati usia pensiun.
4) Akan ada biaya yang turun setelah kita pensiun, misalnya biaya telepon, kendaraan, pakaian, perjalanan dslb.
5) Sebaliknya ada biaya yang pasti naik setelah kita berangkat tua yaitu biaya kesehatan. Secara umum biaya kesehatan bagi kita semua mengalami kenaikan karena tiga faktor yaitu faktor usia (makin tua makin sering sakit), faktor memburuknya lingkungan (penyakit-penyakit baru bermunculan), dan faktor inflasi – yang terakhir ini tidak berlaku karena yang kita gunakan Dinar.

Dari faktor-faktor tersebut, kita bisa perkirakan berapa dana dalam Dinar yang kita butuhkan selama kita pensiun misalnya dari usia 55 – 71 tahun (usia harapan hidup orang Indonesia). Pendekatan kasarnya tinggal dikalikan kebutuhan Dinar per bulan kali jumlah tahun.

Perhitungan detilnya perlu rumus-rumus finansial Future Value, Annuity, Morbidity untuk menhitung biaya kesehatan dlsb. Agak terlalu teknis – tetapi akan saya tulis juga Insyaallah di lain waktu apabila pembaca membutuhkan jabaran yang lebih teknis.

M Iqbal

Berapa Dinar Yang Kita Butuhkan...?

Sebelumnya saya telah menulis mengapa uang kertas tidak dapat kita pakai untuk membuat perencanaan finansial jangka panjang, pada tulisan ini saya ingin mulai memberikan alternatifnya dengan menggunakan Dinar.

Sebelum membahas detil kebutuhan finansial bagi pribadi dan keluarga kita, terlebih dahulu perlu dipahami adanya dua jenis kebutuhan finansial yaitu kebutuhan yang dapat diprediksi dan kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi.

Kebutuhan finansial yang bisa diprediksi membutuhkan pengumpulan sejumlah dana dalam periode tertentu sehingga pada saat dibutuhkan dana tersebut tersedia. Contoh kategori ini adalah dana pergi haji, dana pendidikan anak, dana untuk pembelian rumah dan lain sejenisnya.

Kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi bisa timbul kapan saja atau tidak timbul sama sekali. Dari kategori ini ada kebutuhan finansial yang bisa timbul kapan saja dan pasti terjadi, hanya waktunya yang tidak diketahui seperti kebutuhan biaya-biaya yang terkait dengan kematian anggota keluarga atau konsekwensi dari kematian anggota tersebut. Ada pula kebutuhan finansial yang bisa terjadi kapan saja tetapi mungkin juga tidak terjadi sama sekali seperti biaya-biaya yang terkait dengan risiko kesehatan, bencana alam, kecelakaan dan sejenisnya. Jenis kebutuhan finansial yang kedua ini yang pada umumnya diatasi melalui tolong menolong atau bentuk modernnya dikelola oleh Takaful atau asuransi syariah.

Selain dapat tidaknya suatu kebutuhan finansial diprediksi, kebutuhan ini juga dapat dikelompokkan menjadi kebutuhan kebutuhan tunai dan kebutuhan pendapatan sebagai berikut :

KEBUTUHAN TUNAI
Dana Pendidikan
Dana Darurat
Dana Pelunasan Hutang
Dana Penyelesaian Warisan


KEBUTUHAN PENDAPATAN

Kebutuhan Esensial Makanan
Pakaian
Perumahan
Perawatan Rumah
Transportasi
Bahan Bakar
Perawatan Kesehatan
……


Kebutuhan Tidak Esensial Perayaan Ulang Tahun
Liburan
Peralatan Olah Raga
Baju Pesta
Kwalitas Makanan


Sekarang kita coba menghitung kebutuhan Dinar untuk kelompok pertama yaitu Kebutuhan Tunai.

Untuk mudahnya dipahami, saya menggunakan contoh keluarga imaginer - katakanlah keluarga Abdullah dengan profil sebagai berikut :

Di Keluarga Abdullah, saat ini hanya Pak Abdullah yang bekerja. Usia Pak. Abdullah saat ini adalah 44 tahun dan merencanakan ‘pensiun’ dari pekerjaan sekarang dalam 11 tahun kedepan atau pada usia 55 tahun. Pak Abdullah memiliki tiga orang putra yang saat ini masing-masing berusia 18 tahun, 14 tahun dan 8 tahun. Pak Abdullah ingin anaknya semua dapat menyelesaikan perguruan tingi. Selain dari pada itu beliau juga ingin keluarganya tetap mandiri dan tidak menjadi beban orang lain sampai akhir usia Bapak dan Ibu Abdullah yang berdasarkan statistik harapan hidup rata-rata di Indonesia bisa mencapai 70 tahun. Sebagai muslim yang taat, sementara mengusahakan kehidupan di dunia yang mandiri, keluarga Abdullah tidak ingin kehilangan kesempatan beramal semaksimal mungkin. Oleh karenanya keluarga Abdullah ingin terus meningkatkan Sedeqah-nya sehingga mencapai 1/3 dari penghasilannya sampai akhir hayatnya. Karena didorong oleh keinginanya untuk meng-akhiri usianya dengan usia dan amal terbaik, maka beberapa tahun terakhir keluarga Abdullah telah merintis usaha untuk skala rumah tangga. Pak Abdullah juga merencanakan pergi haji berdua dengan istri dua tahun dari sekarang.

Untuk menyederhanakan pendekatan kebutuhan Dinar keluarga Abdullah, langkah pertama yang dibutuhkan untuk perencanaan finansial adalah dibuatnya kerangka waktu atau time frame.

Perencanaan finansial akan selalu perlu time frame agar bisa tahu kapan dana tunai dan dana pendapatan dibutuhkan. Berdasarkan uraian diatas, maka secara garis besar kerangka waktu perencanaan finansial keluarga Abdullah dapat digambarkan dalam illustrasi berikut:

Dari ilustrasi tersebut kita sudah bisa memetakan beberapa kebutuhan tunai dan kapan dibutuhkan.

Karena Dinar tidak terpengaruh oleh inflasi, maka hal ini memudahkan kita dalam membuat rencana jangka panjang.

Misalnya kita tahu bahwa saat ini masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia perlu sekitar Rp 50 juta - maka anggaran 50 Dinar- pastilah cukup. kalau 50 Dinar cukup untuk masuk perguruan tinggi sekarang, insyaallah pada saat anak ke 2 Pak Abdullah yang akan masuk perguruan tinggi dua tahun lagi juga akan cukup dianggarkan 50 Dinar. Demikian pula anaknya yang ketiga yang akan masuk perguruan tinggi 9 tahun yang akan datang.

Biaya pergi haji juga demikian. Untuk tahun ini biaya ONH biasa termasuk uang saku 30 Dinar cukup - maka dua tahun lagi dengan jumlah Dinar yang sama insyaallah juga akan cukup. Untuk pergi haji berdua Pak Abdullah hanya akan membutuhkan dana 60 Dinar.

Apabila Pak Abdullah juga membutuhkan dana darurat untuk jaga-jaga biaya sakit dlsb. misalnya 50 Dinar, maka kebutuhan tunai Pak Abdullah yang perlu direncanakan pengadaannya adalah 50+2x30+50+50 atau 210 Dinar, 160 Dinar dibutuhkan dalam jangka pendek (2 tahun) dan sisanya masih 9 tahun lagi.

Untuk menghitung Kebutuhan Pendapatan pada masa pensiun insyaallah akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.

M Iqbal

Agar Beban Biaya Hidup Tidak Semakin Berat....

Bagi kita orang awam sering membaca di media bahwa inflasi sekian % (misalnya tahun lalu 7%), tetapi istri/suami kita di rumah sering ngedumel karena harga barang-barang yang naik dua kali lipat, tiga kali lipat adalah hal yang biasa ...lho kok bukan ‘hanya 7 %’ naiknya ?...

Panjang ceritanya, dan untuk ini biarlah para ekonom yang menjelaskan di medianya masing-masing. Saya hanya ingin melihat dari kacamata mata uang atau timbangan yang adil yaitu Dinar, saya share disini dengan pembaca barangkali ada manfaatnya.

Kalau kita punya dua timbangan, timbangan yang pertama terbukti dapat dipakai untuk menilai harga kambing (juga berarti harga barang kebutuhan lainnya) dengan nilai yang sama lebih dari 1400 tahun , dan timbangan yang kedua bahkan tidak dapat kita pakai untuk menilai barang yang sama dalam 30 tahun terakhir – mana yang kita pakai ? tentu orang yang adil harusnya memilih timbangan yang pertama.

M Iqbal

Kemudian timbangan pertama di zaman ekonomi modern ini dipakai untuk menilai harga minyak mentah terlihat sangat jauh lebih stabil dibandingkan dengan timbangan yang kedua, maka orang adil zaman modern inipun harusnya menggunakan timbangan yang pertama.

Nah marilah kita mulai menggunakan timbangan pertama yaitu Dinar untuk menilai segala sesuatu yang terkait dengan keuangan kita baik secara individu maupun secara masyarakat. Untuk memudahkan hal ini sudah beberapa lama saya pajang mistar Dinar Investment Yield (saya sebut saja Mistar DIY) di side bar blog ini.

Dari mistar DIY disamping kita tahu bahwa kalau toh penghasilan atau investasi kita tumbuh 10 % per tahun (ini sudah lebih tinggi dari inflasi yang 7%), dari kacamata Dinar (ingat Dinar hanya merepresentasikan harga benda riil seperti kambing, minyak mentah dlsb) ini masih minus 15% per tahun. Artinya dari daya beli riil kita tidak tambah kaya tetapi bertambah miskin – barang-barang keperluan biaya hidup masih terasa semakin mahal bagi kita seperti cerita di awal tulisan ini.

Bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi ?...penghasilan atau investasi kita harus tumbuh diatas kenaikan harga-harga barang yang riil, bukan hanya diatas kertas. Berapa ini ? dari mistar DIY terlampir ini berarti dalam rupiah penghasilan atau hasil investasi kita harus tumbuh diatas 30.04% sedangkan apabila dalam US$ berarti harus tumbuh diatas 11.29%. Kalau ini bisa dicapai maka kebutuhan biaya hidup kita tidak akan terasa lebih mahal dari waktu ke waktu.

Nah apa ada perusahaan yang bisa menjamin kenaikan gaji terus menerus diatas 30.04 % per tahun ? mungkin memang nggak ada !. Jadi kalau kita ingin biaya hidup kita tidak terasa makin lama semakin mahal, kita tidak bisa mengandalkan hidup sebagai pegawai semata. Kecuali bila kita pegawai yang luar biasa berprestasi sehingga rata-rata penghasilan kita bisa tumbuh diatas 30% per tahun !.

Islam sangat mendorong perdagangan/perniagaan, bahkan dalam hadits Ibnu Majjah disebutkan sembilan dari sepuluh pintu rizki adanya di perniagaan. Jadi mulailah berdagang dengan jujur, adil dan hati-hati ; insyaallah biaya hidup akan lebih ringan.

Mengapa pedagang akan jauh lebih mudah meningkatkan penghasilan/investasi dibandingkan pegawai ? matematika-nya begini : Bila kita berdagang dengan modal 100 juta. kita putar seminggu sekali modal tersebut – dengan margin bersih setelah dipotong biaya 1 % saja – maka hasil investasi kita setahun adalah 67% (karena setahun ada 52 minggu, ditambah efek compound dari hasil bersih yang diinvestasikan kembali).

Jadi inilah solusi Islami untuk makmur, berdaganglah....!; sampai -sampai Allah SWT ‘membahasakan’ amal Islami yang paling Agung-pun yaitu jihad dengan istilah perdagangan atau perniagaan. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?”. Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan Harta dan Jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. “ (QS.61 : 10-11).

Kalau kita saat ini bekerja sebagai pegawai, pasangan tidak bekerja – maka dapat kita dorong pasangan kita untuk belajar berdagang – agar keluarga kita dapat mengalahkan kenaikan biaya hidup dari waktu ke waktu.

Kalau kita dan pasangan keduanya bekerja sebagai pegawai, kita usahakan salah satu yang lebih berpotensi untuk keluar dan mulai berdagang – insyaallah hasilnya akan lebih baik.

Apabila langkah ini diikuti secara massal, maka hasilnya Insyaallah Indonesia akan lebih makmur. Justru karena kegiatan perdagangan ini tidak didorong dan tidak secara optimal difasilitasi oleh pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat membuat Indonesia makin lama makin terpuruk. Bahkan kita juga tidak sadar kalau makin lama kita makin terpuruk.

Bagaimana agar kita sadar bahwa Indonesia makin lama makin terpuruk, sehingga dengan kesadaran ini kita bisa bangkit ? lagi-lagi jangan gunakan kaca mata timbangan yang tidak adil seperti Rupiah mupun US Dollar. Gunakan Dinar – atau kalau alergi dengan istilah Dinar, gunakanlah emas, minyak, atau apapun yang riil tetapi jangan kertas yang diberi angka.

cadangan devisa dinarSaya kasih contoh sederhana saja dari grafik terlampir. Selama ini kita mengira bahwa Indonesia sudah bangkit dari krisis ekonomi akhir 90-an, dengan berbagai indikator – antara lain cadangan devisa kita yang menumpuk dalam hitungan US$, pendapatan per kapita yang naik – lagi-lagi dalam US$ dlsb. Cadangan devisa sebagai contoh, pada saat tulisan ini saya buat cadangan devisa kita berdasarkan data BI adalah US$ 54.9 milyar atau naik 87 % dalam 8 tahun terakhir.

Namun cadangan devisa yang naik tersebut kan karena diukur dengan US$, sedangkan US$ sendiri nilainya turun tinggal 40 % nya dalam tenggang waktu yang sama. Nah kalau kita gunakan timbangan yang adil yaitu Dinar kayak apa kinerja cadangan Devisa kita ? ternyata cadangan devisa kita apabila dihitung dengan Dinar saat ini tinggal 56 % saja dibandingkan dengan cadangan devisa kita tahun 2000.

Itulah negara kita, dan itulah cerminan mayoritas dari masyarakat kita – kita makin lama makin miskin tetapi tidak terasa; yang terasa hanya beban biaya hidup yang makin lama makin berat..... "Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur - tidak ada Tuhan selain Engkau".

....Agar Harta Itu Jangan Hanya Berputar Diantara Orang-orang Kaya...

Kali ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mudah-mudahan juga berguna untuk para pembaca blog ini. Dengan gigihnya kita memperjuangkan mata uang yang Adil dari Emas dan Perak, kita juga jangan sampai terjebak dalam perilaku menimbun emas. Di tulisan saya sebelumnya, saya juga mengingatkan jangan sampai harta kita justru menjadi liability di akhirat....

Dalam Islam harta kita harus bergerak sehingga memberi manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain yang juga mempunyai hak atas harta kita. Manfaat berputarnya harta ini saya coba jelaskan dengan persamaan pertukaran atau equation of exchange yang juga sudah saya singgung sebelumnya. Persamaan tersebut adalah M x V = P x Q dimana M = jumlah uang, V= Perputaran uang ; P = Tingkat Harga dan Q = jumlah barang dan jasa. Saya ingin menggunakan persamaan ini untuk menjelaskan sistem ekonomi yang berbasis Dinar dan Dirham dan dimana bunga bank dianggap haram (dan memang haram !).

Dalam ekonomi yang berbasis Dinar, M akan cenderung tetap karena tidak seperti uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan berapa saja. Untuk mencetak Dinar diperlukan emas asli yang tentu jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan hanya ada sekitar 150 ribu ton emas diseluruh dunia saat ini dan setiap tahunnya diperkirakan hanya bertambah sekitar 1.5% dari penambangan emas di seluruh dunia. Perak memang jumlahnya tentu lebih besar dari emas, namun juga terbatas.

Dengan scenario Allah yang telah membuat emas dan perak yang jumlahnya terbatas dan tersebar relatif merata di seluruh dunia – bahkan Amerika Serikat pun yang menganggap dirinya negara adikuasa hanya menguasai sekitar 8,000 ton emas saja atau 5.3 % dari emas dunia – maka seharusnya kemakmuran-pun merata.

Dengan tidak naiknya M, sementara Q atau output harus naik secara gradual sejalan dengan pertumbuhan penduduk dunia dan P relatif tetap (harga barang-banrang apabila dibeli dengan emas akan cenderung tetap dalam jangka panjang), maka harus ada yang bergerak mengimbangi gerakan Q atau output tersebut. Tinggal satu faktor yang belum bergerak yaitu V, disinilah rahasianya ekonomi Islam, mengapa Islam sangat mendorong perputaran uang yang cepat dari satu tangan ke tangan lainnya. Lebih jauh lagi perputaran ini harus luas tidak hanya berputar di golongan tertentu saja sesuai Ayat Al-Quran 59:7 “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…”.

Segala kebutuhan manusia, termasuk jumlah emas di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan mata uang penduduknya, ternyata juga sudah diatur sedemikian rupa sesuai scenario Allah SWT sehingga akan selalu mencukupi. Diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an QS 54: 49 “ Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Hal ini juga bisa dibuktikan dari satitistik jumlah penduduk dunia dibandingkan dengan jumlah emas yang tersedia sebagaimana ditunjukkan di grafik berikut :

Emas di permukaan bumi

Sumber : Gold Sheet Mining Directory .Trend Jumlah Penduduk Dunia dan Kumulatif Jumlah Emas Yang Ada Di Permukaan Bumi.

Dari grafik tersebut kita bisa lihat bahwa ternyata emas memang tersedia cukup bagi umat manusia sepanjang zaman; hanya keserakahanlah yang membuatnya bisa tidak mencukupi.

Cepatnya perputaran uang dalam ekonomi Islam ini juga digambarkan dalam suatu Hadits dimana Rasulullah SAW suatu pagi selesai sholat subuh buru-buru pulang kemudian balik lagi ke Masjid untuk melanjutkan dzikir dan doa’nya. Ketika sahabat ada yang bertanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia tadi buru-buru karena ingat ada uang tiga Dirham yang belum disedekahkan.

Pada hadits lain dari Abu Huraira : Rasulullah SAW bersabda , “ Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah tiga hari tidak tersisa satu Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku”. (HR. Bukhari)

Dua contoh diatas menggambarkan seberapa cepat uang seyogyanya berputar diantara kaum muslimin. Apabila uang tersebut uang kecil putaran ini ukurannya satu hari, apabila uang besar atau kekayaan yang banyak maka putarannya tiga hari. Artinya uang bagi kaum muslimin hendaklah terus bergerak, baik itu untuk konsumsi, di sedekahkan/diinfakkan ataupun diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Jadi menggunakan Dinar sebagai alat investasi dan alat mempertahankan nilai, tidak boleh berarti menimbunnya. Batasan yang boleh dan yang tidak sudah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya .

Dari sini kita tahu bahwa tugas berikutnya setelah Dinar dan Dirham ini berada ditangan masyarakat secara luas, kita harus mulai benar-benar menggunakannya dalam bermuamalah sehari-hari....kita pikirkan caranya...yang penting kita mulai saja yang kita tahu, nanti biarlah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu.
Wallahu A’lam bis Showab.

M Iqbal

Perbedaan Inflasi Yang Dhalim Dengan Naik-Turunnya Harga Yang Fitrah

Agak teknis sedikit, untuk menjelaskan inflasi yang dhalim saya akan gunakan rumus yang digunakan para monetarist yaitu M x V = P x Q . Dimana M = jumlah uang, V= kecepatan berputar; P= Tingkat harga dan Q = Jumlah barang dan Jasa.

Apabila uang yang kita gunakan adalah uang kertas yang bisa dicetak terus tanpa ada yang membatasinya, kemudian uang tersebut dengan sistem bunga ‘ditarik’ dari peredaran dan disimpan dalam bentuk tabungan , deposito dan lain sebagainya sehingga membuat sektor riil tidak bergerak; maka harga-harga barang akan naik, ini yang disebut inflasi.

Apabila kenaikan ini berlangsung terus secara spiral akan dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai hiper inflasi. Inflasi yang terjadi melalui proses demikian adalah inflasi yang dhalim karena didorong oleh kedhaliman pencetakan uang yang tidak terkontrol dan menahan uang dari sektor riil melalui meknisme bunga bank yang ribawi.

Selain kedhaliman dalam jumlah uang yang berlebihan, kenaikan harga juga bisa terjadi karena penimbunan barang dan monopoli yang keduanya juga terlarang dalam Islam. Inflasi atau kenaikan harga-harga yang dhalim demikian –baik karena jumlah uang yang dicetak berlebihan atau ada tindakan yang tidak adil misalnya dalam penimbunan barang dan monopoli– adalah kenaikan harga yang tidak dibolehkan atau bahkan harus dicegah.

Dilain pihak meskipun kita menggunakan uang Dinar dan Dirham, bunga bank atau riba kita tinggalkan, maka kemungkinan naik-turunnya harga akan tetap ada. Namun naik-turunnya harga bukanlah disebabkan oleh kedhaliman, melainkan karena fitrah perdagangan, yaitu keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Apabila barang yang ditawarkan jumlahnya lebih sedikit dari yang dibutuhkan maka tentu saja harga barang tersebut akan naik. Kenaikan harga yang demikian inilah yang juga pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW tidak mau menghentikan atau mempengaruhi kenaikan harga ini sebagaimana kita bisa lihat dari Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut :

Telah meriwayatkan dari Anas RA., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta’” .

Naik-turunnya harga yang fitrah penyebabnya murni supply and demand, dalam jangka pendek bisa berfluktusi tergantung posisi supply and demand tersebut – tetapi jangka panjang akan cenderung stabil. Stabilitas tercipta oleh mekanisme pasar itu sendiri, yaitu pada saat supply berlebih, harga akan turun – produsen akan mengerem produksinya. Sebaliknya pada saat demand berlebih, harga akan naik – yang mendorong produsen untuk menambah produksi yang kemudian menambah supply dan dampaknya akan mendorong harga turun kembali.

Dari penjelasan diatas, persamaan pertukaran atau equation of exchange M x V = P x Q dapat dipakai untuk menyimpulkan secara sederhana, mana kebijakan moneter yang fitrah dan memakmurkan rakyat dan mana kebijakan moneter yang dzalim dan menyengsarakan rakyat. Apabila pemerintah mencetak uang, tetapi tidak berdampak pada naiknya ketersediaan barang dan jasa (Q) maka pasti harga(P) yang naik, berarti upaya pemerintah mencetak uang menjadi musibah bagi masyarakat karena inflasi akan menaikkan harga-harga seluruh barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ini yang terjadi di sistem uang fiat yang dianut oleh seluruh pemerintahan di dunia saat ini.

Apabila pemerintah dapat mengendalikan jumlah uang yang ada (M) pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan produksi barang dan jasa, maka jumlah barang dan jasa (Q) naik sementara M relatif tetap, maka pasti harga-harga (P) akan turun, inilah kebijakan pemerintah yang akan memakmurkan rakyat. Ini bisa terjadi apabila uang Dinar dan Dirham dipakai.

M Iqbal

Inflasi Yang Menghanguskan Hasil Jerih Payah Kita Bertahun-Tahun…

Kemarin saya di hari libur sempat ngobrol dengan salah satu pengunjung GeraiDinar di Depok…., ini awal pertama kalinya pengunjung tersebut melihat Dinar secara fisik dan langsung jatuh hati dengan memulai memindahkan sebagian tabungannya ke Dinar.

Saya ingin mengangkat diskusi dengan pengunjung tersebut karena alasannya pindah ke Dinar barangkali bisa menjadi inspirasi bagi pembaca blog ini. Dari penuturan pengunjung tersebut saya menangkap bahwa selama ini dia dan keluarganya kawatir kalau hasil jerih payah dia bertahun-tahun bisa hangus begitu saja - kalau hanya disimpan dalam mata uang Rupiah ataupun Dollar.

Menurut saya sendiri alasan tersebut sangat benar dan pesan itulah yang saya juga ingin sampaikan ke pembaca blog ini melalui tag line “Investasi & Proteksi Nilai”. Kalau ditulisan saya sebelumnya saya katakan bahwa Dinar sebagai investasi hanya no 2 , tetapi sebagai Proteksi Nilai – Dinar tidak ada duanya.

Untuk memahami bagaimana Proteksi Nilai ini bekerja, saya ambilkan contoh kinerja kawan saya yang tergolong Average High dalam prestasi kerja dan investasinya. Saat ini usianya awal 40-an dan mulai bekerja tahun 1990. Ketika mulai bekerja penghasilan dia Rp 1,000,000,- net; saat ini penghasilannya hampir Rp 37,000,000,- net per bulan.

Dengan keinginannya yang kuat untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya dan memiliki hari tua yang terjamin, teman saya tersebut rajin menyisihkan rata-rata sekitar 20% dari penghasilannya setiap bulan untuk ditabung di Bank Pemerintah. Akhir tahun kemarin tabungannya telah mencapai Rp 1.033 milyar. Memuaskankah hasil tabungan yang dikumpulkan dengan jerih payah ini ?.

Coba kita lihat dari dua grafik berikut; dilihat dari kaca mata uang Rupiah – betul uang dia naik terus – maskipun naiknya masih kalah dengan kenaikan Dinar. Tetapi tabungan Rupiah masih lebih baik daripada US$ kalau dipotret selama 18tahun ini – dengan mempertimbangkan bagi hasil perbankan yang jauh lebih tinggi di Rupiah dibandingkan dengan Dollar.

Dalam Rupiah tabungan teman tersebut tentu saja naik terus. Disamping mendapatkan bunga (awalnya bunga karena saat itu Bank Syariah belum seluas sekarang, tetapi kemudian hijrah ke bank syariah menjadi bagi hasil), nilai tabungan juga terus ditambah dengan penyisihan rutin 20% dari gaji bulanannya.

Mari sekarang kita lihat dengan ukuran yang lain yaitu Dinar. Mengapa Dinar ? , Karena Dinar-lah yang nilainya baku dan bisa dipakai untuk mengukur daya beli sesungguhnya sepanjang zaman. Saya sudah menjelaskan argumen ini di tulisan-tulisan sebelumnya, baik secara statistik harga minyak yg merupakan salah satu parameter ekonomi modern maupun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Dengan mengubah sumbu Y grafik pertama dari Rupiah ke Dinar, maka segera nampak – bahwa sejak teman saya memulai menabung 18 tahun lalu, sudah dua kali tabungannya menyusut. Tahun 1997-1998 penurunan in sangat drastis dan mendadak sehingga dirasakan oleh seluruh masyarakat negeri ni. Dua tahun terakhir, penyusutan nilai uang kertas terhadap Dinar sebenarnya juga sangat serius– namun karena terjadinya gradual – banyak yang tidak menyadarinya.

Bayangkan…kita kerja keras banting tulang dan menyisihkan sebagian dari hasil jerih payah tersebut dalam bentuk tabungan untuk mengamankan masa depan kita dan anak-anak…eh ternyata kekayaan kita malah secara berkala menyusut dihanguskan oleh apa yang disebut Inflasi.

Masalah tergerusnya hasil kerja keras kita oleh inflasi ini bukan hanya terjadi di negara kita, di negara yang mengaku super power-pun hal ini terjadi. Analisa seperti yang saya buat ini pernah juga dibuat oleh Larry Parks, Executive Director, FAME (Foundation of the Advancement of Monetary Education) yaitu LSM yang berusaha menyadarkan rakyat Amerika akan bahaya system uang kertas. Dengan lantang Larry berpesan kepada rakyat Amerika : "With the monetary system we have now, the careful saving of a lifetime can be 
wiped out in an eyeblink."
Wallahu A’lam.


M Iqbal

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur'an dan Al- Hadits

Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur'an yang agung, Allah berfirman :"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun". (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 1,171,725) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A'lam bi showab.

M Iqbal

Mengapa Uang Kertas Tidak Bisa Dipakai Untuk Perencanaan Financial Jangka Panjang ?

Bagi para perencana finansial, inflasi adalah faktor ketidak pastian terbesar yang paling sulit diatasi. Betapa tidak, di negeri seperti Indonesia Inflasi terburuk (terbesar) dalam sepuluh tahun terakhir pernah mencapai 78% (tahun 1998). Lebih buruk lagi dalam lima puluh tahun terakhir, di Indonesia inflasi pernah benar-benar tidak terkendali dan mencapai angka 650% (tahun 1965). Inflasi yang berarti menurunnya daya beli uang, ternyata tidak hanya di alami oleh mata uang Rupiah, bahkan mata uang dunia yang selama ini dianggap perkasa yaitu Dollar Amerika, daya beli mata uang Dollar Amerika tersebut terhadap emas telah turun tinggal 29 % dalam 8 tahun terakhir, dalam 40 tahun terakhir daya beli Dollar Amerika terhadap emas tinggal 4 % saja !.

Pada umumnya ketika kita merencanakan kebutuhan finansial Kita kedepan, apakah untuk keperluan ‘pensiun’ yang mungkin masih 20-30 tahun lagi, biaya pendidikan anak di perguruan tinggi yang masih belasan tahun lagi, ataupun kebutuhan biaya lain yang sifatnya jangka panjang, Kita memerlukan asumsi inflasi yang Kita akan hadapi – misalnya 10% per tahun. Asumsi kedua adalah hasil investasi dari dana Kita, targetnya tentu selalu diatas angka inflasi tersebut agar pertumbuhan dana Kita tidak kalah cepat dengan kenaikan inflasi. Disinilah problem Kita yaitu menghadapi dua ketidak pastian sekaligus, ketidak pastian inflasi dan ketidak pastian hasil investasi.

Contoh konkrit masalah ini saya ambilkan pengalaman seorang kawan dengan asuransi pendidikannya. Kawan ini eksekutif di perusahan telekomunikasi, beliau kecewa berat dengan asuransi pendidikan anaknya yang dibeli tahun 1988. Saat itu ketika anaknya baru lahir, dia membeli produk asuransi pendidikan senilai Rp 22.5 juta yang akan cair pada saat anaknya masuk perguruan tinggi. Saat itu nilai pertanggungan ini sangat besar dan pada tahun-tahun awalnya harus dibayar 20 % dari gaji bulanan dia. Tahun 2006 ketika anaknya masuk ITB dan perlu membayar Rp 45 juta uang pangkal, dana asuransi yang cair ternyata hanya cukup membayar separuh dari uang pangkal tersebut. Siapa yang salah ? perusahaan asuransi sudah membayar kewajibannya dengan benar, kawan saya juga telah konsisten selalu membayar preminya bertahun-tahun dengan benar.

Yang salah tidak lain adalah nilai uang kita yang sangat tidak bisa diandalkan. Nilai pertanggungan Rp 22.5 juta tahun 1988 adalah setara dengan 227 Dinar.; ketika cair tahun 2006, nilai asuransi Rp 22.5 juta tersebut tinggal 32 Dinar ! (kalau uang asuransi tersebut cair pada saat tulisan ini saya buat 1 Muharam 1429 – Rp 22.5 juta hanya setara dengan 19 Dinar !). Bayangkan kalau dari awal teman saya yang sholeh tersebut membeli produk asuransi pendidikan dengan nilai sebesar 227 Dinar*, maka saat cair tahun 2006 nilai 227 Dinar tersebut setara dengan Rp 161 juta (Kalau jumlah Dinar yang sama ditukar ke Rupiahnya saat ini menjadi Rp 261 juta). Uang ini bukan hanya cukup untuk membayar uang pangkal di ITB, tetapi juga masih cukup untuk membelikan anaknya mobil baru untuk kuliah dan membayar seluruh biaya pendidikan sampai anaknya tamat !. Inilah indahnya kalau produk keuangan jangka panjang dikelola dengan Dinar, mata uang baku yang nilainya tidak pernah terdevaluasi sepanjang jaman....!

Note:
*Sayangnya produk asuransi pendidikan belum ada yang dibuat dengan nilai Dinar, mudah-mudahan ada perusahaan asuransi jiwa syariah yang mau mengeluarkan produk berbasis Dinar ini - solanya di asuransi kesehatan sudah ada.

M Iqbal

Tipping Point : Titik Didih Dinar Yang Sedang Kita Tuju….

Kali ini inspirasi tulisan saya berasal dari buku best seller internasional terbitan tahun 2000 dengan judul Tipping Point.

Untuk gampang menjelaskan fenomena Tipping Point ini saya gunakan terjemahan bahasa Indonesianya adalah Titik Didih, yaitu suatu titik dimana air yang tadinya tenang – berubah bentuk menjadi uap yang sangat perkasa – bahkan bisa menggerakkan mesin-mesin raksasa.

Fenomena Titik Didih ini terjadi dimana-mana di alam ini dan terjadi pula dalam kehidupan kita, dalam masyarakat, dalam penyebaran penyakit, dalam pemasaran dan tentu juga insyaallah sedang dalam proses terjadi di pengenalan Dinar dan Dirham di masyarakat.

Sebelum melihat penerapannya di Dinar dan Dirham, saya kasih contoh dulu Titik Didih yang pernah terjadi di masyarakat New York yang diceritakan di buku yang saya sebut diatas.

Sampai tahun 1990 – New York merupakan kota yang mengerikan dari sisi kejahatan. Anak –anak tidak aman main sepeda di jalanan, orang tua tidak aman duduk-duduk di taman dan bahkan kejahatan di tempat umum seperti orang yang menembak orang lain di kereta bawah tanah dianggap hal yang biasa. Pertumbuhan tingkat kejahatan yang sangat tinggi terjadi antara tahun 60-an sampai akhir tahun 80-an.

Namun ada perubahan yang sangat drastis terjadi sejak awal tahun 90-an, tingkat kejahatan bahkan bisa turun 2/3-nya di periode ini. Pertanyaannya, siapa yang melakukan perubahan itu ? siapa yang ‘menda’wahkannya’ sehingga ratusan ribu orang-orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya ?.

Ternyata awalnya hanya perbuatan segelintir orang, yang mungkin dianggap oleh orang lain hal kecil. Untuk fenomena penurunan tingkat kejahatan di New York tersebut, awal perubahan itu dilakukan oleh pengelola kereta bawah tanah yang merazia para penumpang yang tidak membeli karcis. Pada saat mereka melakukan razia-nya, mereka kemudian menemukan berbagai senjata api, senjata tajam dan alat kejahatan lain yang dibawa oleh penumpang yang membandel tersebut. Dari sini calon-calon kejahatan diurungkan, bahkan calon-calon penjahat tersebut tidak lagi membawa senjata ketika naik kereta dan mereka juga membayar karcis. Karena hal tersebut mewabah seperti mewabahnya penyakit – maka inilah yang akhirnya terjadi Tipping Point – Titik Didih penurunan kejahatan di New York.

Nah sekarang apa yang terjadi dengan Dinar. Dari yang saya amati saja setahun terakhir ribuan orang mulai memahami sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di mata uang kertas manapun. Sepuluh hari lalu saya menulis tentang Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci, hari-hari ini kita melihat buktinya dengan harga Dinar yang begitu tinggi bahkan melewati prediksi di tulisan saya tersebut.

Karena paham apa yang sedang terjadi dengan uang kertas, ada anak muda yang menikah dengan mas kawin Dinar, kemudian mewabah ke teman-temannya. Ada keluarga besar mantan diplomat yang seluruh anak – menantunya ‘hijrah ke Dinar’; Ada perkantoran yang hampir seluruh karyawan muslim mengenal Dinar kemudian rame-rame mennggunakannya, bahkan ada keluarga bankers yang belajar mengenai Dinar, menggunakannya sampai berniat ikut memperkenalkannya di masyarakat dengan membuka Gerai Dinar. Mereka-mereka inilah segelintir orang - seperti halnya manajemen kereta bawah tanah New York - yang menjadi awal perubahan besar itu. Ide dan tulisan kita tidak ada artinya kalau masyarakat tidak buy in , tidak mendapatkan manfaat dan tidak menggunakannya...

Peluang besar bagi kita semuanya, dari sisi manapun…Insyaallah. Yang punya duit banyak berpeluang jadi shahibul mal untuk pengadaan stok Dinar …yang punya network silahkan menjadi mudharib ataupun wakil….atau apapun peran Anda; yang jelas Dinar dan Dirham sedang kembali ke masyarakat ….dan kita tinggal milih, apakah kita akan ikut menjadi sebab – atau sebaliknya menjadi akibat…(baca ; korban ) . wallahu a’alam.

M Iqbal

Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta

Ada sebuah nasihat yang sangat Indah kepada diri saya sendiri yang juga insyaallah bermanfaat bagi pembaca. Nasihat ini saya ambilkan dari kitab Riyadus –Shalihin yang ditulis oleh orang sholeh zaman dahulu yang terkenal keikhlasannya. Saking ikhlasnya Imam Nawawi, konon kitab asli dari Riyadus Shalihin tersebut tidak bisa dibakar oleh api.

Nasihat ini sendiri berasal dari hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kemu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

Bayangkan, bila Allah mengirimkan awan khusus untuk menyirami kebun kita. Di kala orang lain kekeringan, lahan kita tetap subur. Di kala usaha lain pada bangkrut usaha kita tetap maju, dikala krisis moneter menghantam negeri ini – kita tetap survive. Dan ketika usaha kita berjalan baik sementara saudara-sauadara kita kesulitan. sepertiga hasil usaha kita untuk mereka – alangkah indahnya sedeqah ini.

Bagaimana kita bisa memperoleh pertolongan Allah dengan awan khusus tersebut ?, kuncinya ya yang di hadits itu : kita bersama keluarga kita hanya mengkonsumsi sepertiga dari hasil kerja kita. Sepertiganya lagi kita investasikan kembali, dan yang sepertiga kita sedeqahkan ke sekeliling kita yang membutuhkannya.

Karena janji Allah dan rasulNya pasti benar, maka kalau tiga hal tersebut kita lakukan – Insyaallah pastilah awan khusus tersebut mendatangi kita. Namun jangan dibayangkan bahwa awan khusus tersebut harus benar-benar berupa awan yang mendatangi kita. Bisa saja awan khusus tersebut berupa teman –teman kita yang jujur yang memudahkan kita dalam berusaha, atasan kita yang adil yang memperjuangkan hak-hak kita, atau karyawan kita yang hati-hati yang menjaga asset usaha kita, dan berbagai bentuk ‘awan khusus’ lainnya. Wallahu A’lam bis showab.

Metode Islami Dalam Perencanaan Keuangan

Untuk mengawali serangkaian tulisan saya yang akan menjadi tema sentral di Blog ini, pagi ini saya ingin memperkenalkan Metode atau cara Islami yang diajarkan Allah dan RasulNya tentang harta dan konsep membangun ketahanan ekonomi umat.

Dalam sebuah hadits, Sa’ad bin Abi Waqqash menyampaikan, “ Pada saat Haji Wada’, Rasulullah SAW mengunjungiku yang lagi sakit keras. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisi hartaku, kecuali anak perempuanku satu-satunya. Jika demikian, bolehkah aku menyedekahkan dua per tiga (2/3) dari hartaku ?” Nabi SAW menjawab, “Tidak Boleh”. Aku bertanya lagi, “bagaimana kalau aku sedekahkan separuh (1/2) dari hartaku, ya Rasululah ?”, Nabi SAW, menjawab, “Juga tidak boleh”. Aku kembali bertanya, “Kalau sepertiga (1/3) ?” , Mendengar itu Nabi SAW bersabda, “kalau sepertiga (1/3) boleh, dan itupun sudah banyak. Sebab, seandainya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan papa, meminta-minta kepada manusia…”(HR.Bukhari).

Pelajaran yang sangat berharga dari hadits tersebut diatas adalah, seorang muslim haruslah menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya sehingga amalan-amalan yang bisa membawanya kepada kehidupan yang baik di akhirat menjadi prioritas yang diusahakan secara maksimal. Sa’ad bin Abi Waqash awalnya ingin menyedekahkan dua pertiga (2/3) dari hartanya yang banyak tentu karena ia berharap kebaikan akhirat ini.

Namun demikian, Rasulullah SAW yang setiap kata dan perbuatannya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah SWT (“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”, Al-Qur’an 53:4) , tentu dapat melihat aspek yang lebih luas bagi kehidupan umatnya. Dalam upaya mengejar kebaikan kehidupan akhirat, kita juga tidak harus meninggalkan kebaikan kehidupan di dunia bagi diri kita sendiri maupun anak-anak keturunan kita.

Dalam konteks mencari kebaikan kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat yang seimbang inilah seorang muslim harus memiliki rencana yang baik dalam hal apapun, termasuk dalam hal pengelolaan finansial bagi pribadi pribadi maupun keluarganya.

Bagi umat Islam, perencanaan finansial ini juga bagian dari ajaran agama ini yang antara lain langsung diberi contoh yang Indah langsung dari Al-Qur’an dalam surat Yusuf 43-48 berikut :


Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu, jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”

Mereka menjawab, “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menakwilkan mimpi itu.”

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami(takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (Yusuf 12:43-48).

Implementasinya dalam bentuk konsep ekonomi di Zaman modern ini ada di tulisan saya yang lain seperti yang sudah saya mulai di tulisan tentang Bangun Ketahanan Ekonomi... dan insyaallah kalau diberi usia panjang akan ada tulisan berikutnya....

M - Iqbal

Gold: The Once and Future Money

Emas : Sebagai Uang Masa Lampau dan Uang Yang Akan Datang; demikian judul tulisan ini yang saya ambilkan dari judul buku yang ditulis oleh Nathan Lewis (John Wiley & Son, 2007) seorang senior economist pada sebuah perusahaan Asset Management di New York. Dia juga aktif nulis di media financial kenamaan seperti Financial Times dan the Wall Street Journal. Karena buku ini terbit tahun 2007 – jadi masih up todate untuk ukuran buku ekonnomi.

Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, Bagian Pertama membahas uang dalam berbagai bentuknya. Bagian Kedua membahas sejarah uang Amerika Serikat, dan Bagian Ketiga membahas Krisis Mata Uang di Seluruh Dunia – termasuk diantaranya diulas krisis serius di Asia dan tentu Indonesia akhir tahun 90-an.

Yang menarik dari buku ini adalah bahwa meskipun yang bersangkutan bukan seorang muslim, dalam hal uang dia memiliki pemikiran yang lurus. Dalam salah satu kesimpulan nya dia menulis seperti ini “ Mungkin perlu waktu beberapa tahun atau beberapa puluh tahun, tetapi era uang kertas perlahan lahan akan berakhir; Dunia tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali ke hard currency. Manfaat dari hard currency sungguh luar biasa. System hard currency masa depan akan berdasarkan emas, sama persis dengan yang terjadi di masa lampau”.

Kalau Nathan Lewis mungkin belum terlalu terkenal, jadi pendapatnya bisa saja tidak dianggap oleh para pelaku ekonomi zaman ini; tetapi siapa yang nggak kenal John Naisbitt – yang di dunia barat dianggak kaya ‘dewa’ nya ekonomi modern karena prediksi dia tentang trend perekonomian dalam beberapa bukunya selama 20 tahun terakhir terbukti akurat ? Apa kata John Nasibitt tentang uang ini di bukunya terakhir (Mind Set) ?. Menurut dia monopoly terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoly uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat. Apa itu mata uang privat ? yaitu benda-benda riil yang memang memiliki nilai intrinsik.

Sayang sekali Natha Lewis dan John Naisbitt bukan orang Islam, kalau dia tahu bahwa Islam memiliki system uang Dinar/Dirham-nya yang baku sejak ribuan tahun lalu sampai akhir zaman – pasti dia akan tahu betapa benarnya agama ini.

M Iqbal

Dinar Investment Yield: Mistar Untuk Mengukur Hasil Riil Dari Investasi Kita...

Selama ini para pelaku bisnis dan juga individu menggunakan referensi suku bunga perbankan, SBI dan sejenisnya untuk mengukur apakah suatu investasi memberikan hasil yang baik atau kurang. Kalau hasil investasi tersebut lebih tinggi dari bunga deposito atau lebih tinggi dari SBI, maka investasi tersebut dikatakan berhasil dan sebaliknya.

Masalahnya adalah, alat ukur yang kita pakai tersebut menyusut nilainya dari waktu ke waktu – jadi hasil investasi yang diukur dengan alat ukur yang menyusut tentu juga tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Mengenai penyusutan nilai uang kertas ini saya sudah bahas di tulisan sebelumnya.

Lantas apa alat ukur investasi kita yang lebih mencerminkan nilai daya beli yang sesungguhnya ?, lagi-lagi ya menggunakan Dinar sebagai pembanding. Namun kalau kita katakan tahun ini Dinar mengalami penguatan 32 % terhadap Rupiah maupun Dollar, apa artinya ini terhadap hasil investasi kita yang di Rupiah ataupun Dollar ? – tidak mudah bukan untuk mengkaitkannya ?.

Nah saya mencoba membuat alat ukur sederhana untuk keperluan tersebut, alat ini saya pakai sendiri untuk menilai investasi saya di beberapa usaha kecil-kecilan yang saya tangani. Saya share disini untuk para pembaca siapa tahu bermanfaat juga bagi orang lain.

Cara kerjanya sederhana saja, semua dibandingkannya dengan harga Dinar berdasarkan statistik rata-rata 40 tahun yang kita miliki, Dinar yang diam saja (tidak diinvestasikan = 0% hasil investasi dalam Dinar) memberikan hasil yang setara dengan hasil investasi dalam Rupiah rata-rata 30.04%/ tahun. Sedangkan terhadap hasil investasi dalam Dollar, ini setara dengan hasil investasi rata-rata 11.29%/tahun. Memang tahun 2007 lalu Dinar memberikan hasil yang exceptional 32% terhadap US$ Dollar – tetapi rata-ratanya 40 tahun ya 11.29% itu tadi.

Kalau diamnya Dinar saja memberikan hasil 4 kali lebih besar dari hasil deposito dalam Rupiah (setelah dipotong pajak Deposito Rupiah memberikan bagi hasil sekitar 7.5%/tahun) dan 3 kali deposito dalam US$ (setelah dipotong pajak Deposito US$ memberikan hasil sekitar 3.6%/tahun), maka alangkah baiknya kalau Dinar tersebut juga berputar untuk investasi. Kalau kita bisa berinvbestasi dengan hasil rata-rata 10% saja dalam Dinar, maka berdasarkan mistar Dinar Investment Yield tersebut hasil 10% dalam Dinar ini setara dengan 22.42 % dalam US$ dan setara dengan 43.04% dalam Rupiah.

Kalau deposito bagi hasilnya hanya antara seperempat sampai sepertiga dari Dinar yang disimpan saja, lantas apa investasi yang baik ?. Jawabannya adalah bisnis riil yang dijalankan dengan baik. Kalau belum ketemu bisnis yang baik atau mudharib yang bisa menjalankannnya, 'pertahankan dalam tangkainya' (Lihat QS : Ysuf 47-48) atau bahasa investasinya pegang dulu dalam bentuk asset yang paling aman - apa itu ya lagi-lagi Dinar. Lihat juga di dua tulisan saya sebelumnya mengenai Investai Dinar dan Bangun Ketahanan Ekonomi ...

M Iqbal

Jangan Biarkan Kekayaan Umat Terus Menyusut Nilainya...

Angka-angka statistik dan grafik yang saya sajikan di situs ini setiap hari mungkin tidak berarti apa-apa bagi kita, sampai kita melihat dampaknya pada keuangan kita sendiri. Tetapi begitu kita sendiri yang menjadi korban, reaksi spontan kita tentu ingin mempertahankan harta (nilai harta) tersebut. Bahkan dalam suatu Hadits panjang dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa mati dalam mempertahankan harta kitapun insyaAllah kita sahid.

Mengapa sebagian besar kita tidak menyadari bahwa harta kita – harta umat Islam Indonesia dan dunia lagi terjarah ?*. Ini karena kita menggunakan timbangan yang rusak untuk menimbang harta kita – yaitu uang fiat baik itu Rupiah, Dollar maupun mata uang kertas lainnya. Dengan timbangan atau alat ukur yang rusak tersebut, kita tidak bisa melihat nilai sebenarnya dari kekayaan kita - kita hanya tertipu oleh angka-angka yang semakin lama semakin besar tetapi tidak memiliki daya beli atau nilai tukar yang sesungguhnya.

Nah sekarang marilah kita lihat contoh-contoh angka dan grafik berikut untuk melihat mana timbangan yang seharusnya kita pakai dalam menilai dan mempertahankan harta umat ini.

Anggap kita memiliki tabungan Rp 2.46 juta tahun 2000, Apabila kita tukar dengan US$ uang tersebut menjadi US$ 350. dan apabila kita tukar Dinar pada saat itu menjadi 10 Dinar. Jadi uang Rp 2.46 juta tahun 2000 setara dengan US$ 350 dan setara pula dengan 10 Dinar.

Sekarang asumsikan uang kita di tabung di Bank Syariah (kalau non syariah – sudah no question – haram bunganya berdasarkan fatwa MUI) dengan bagi hasil rata-rata 7 %, maka uang tersebut saat ini menjadi Rp 3.95 juta. Apabila ditabung dengan tabungan Dollar di bank syariah yang sama dengan bagi hasil rata-rata 3 %, kemudian uang Dollarnya sekarang ditukar ke Rupiah lagi maka uang kita yang di tabungan Dollar tadi menjadi Rp 4.05 juta. Dari sini mungkin kita senang bahwa uang kita telah tumbuh total 61% (tabungan Rupiah) dan 65% (tabungan Dollar) selama jangka waktu 8 tahun ini. Tapi tunggu dulu – seandainya uang tersebut kita belikan Dinar dan sekarang kita tukar ke Rupiah maka uang tersebut menjadi Rp 10.90 juta atau tumbuh total Rp 343% !. Lihat grafik berikut untuk melihat uang kita apabila ditimbang dalam Rupiah.

Photobucket

Kita bisa melakukan exercise yang sama dengan menggunakan mata uang Dollar sebagai referensi atau timbangannya. Hasilnya akan seperti grafik dibawah ini.
Photobucket

Sekarang coba kita gunakan referensi atau timbangan yang adil yang menjadi bagian dari syariat Islam ini yaitu Dinar. Uang kita yang tahun 2000 nilainya setara 10 Dinar, apabila selama 8 tahun terakhir kita pertahankan dalam tabungan Rupiah kemudian baru sekarang kita tukar ke Dinar– meskipun dalam nilai Rupiah telah naik 61% - maka dalam Dinar uang tersebut tinggal 3.62 Dinar atau menyusut 64%. Demikian pula seandainya kita simpan di tabungan US$, meskipun nilainya tumbuh 65% - ternyata dalam Dinar tinggal 3.72 Dinar saja atau menyusut 63% !.

Photobucket

Dari grafik-grafik tersebut sekarang tergantung kita sendiri - apakah kita akan terus merelakan harta hasil kerja keras kita terus tergerus nilainya oleh timbangan yang rusak yang bernama uang kertas...?. Wallahu a'lam bis showab.

Note : *Sebenarnya bukan hanya harta umat Islam yang terjarah oleh rezim uang kertas, masyarakat seluruh dunia juga terjarah. Sebagian masyarakat di Amerika-pun menyadari hal ini; Kalau tertarik Anda bisa lihat situs mereka di www.gata.org (Gold Anti Trust Action Committee) dan www.fame.org (Foundation of Advance Monetary Education)
** Agar Anda tidak terjebak untuk menimbun harta, baca juga tulisan saya di blog lama saya mengenai Membangun Ketahanan Ekonomi dan Investasi Dinar Hanya...

M Iqbal