Perkembangan harga dinar per 10 menit


Gold Dinar to

Rabu, 27 Juli 2011

Silahkan Pilih Dinar Anda Mau Diapakan ……

Oleh : Aceng Husen

Anda bisa memilih – mau diapakan Dinar yang sudah anda miliki.

Ada tiga pilihan,


Pertama : Menyimpan Dinarnya sendiri.

Keuntungannya adalah pemilik Dinar memegang sendiri Dinarnya sehingga merasa lebih nyaman di hati Kelebihan lain lagi adalah Dinar dapat digunakan setiap saat dibutuhkan.

Kekurangannya adalah pemilik harus memikirkan penyimpanan yang aman sendiri.

Kedua : Menitipkan Dinarnya kepada kami,

Layanan menyimpankan dinar ini kami minta untuk ikut berkontribusi sebesar 0.5 % yang kami gunakan untuk biaya-biaya al : biaya SDB dan biaya asuransi.

Keuntungannya penyimpanan terproteksi ini adalah Dinar Anda aman dan tetap dapat digunakan/diambil setiap saat dibutuhkan. Kekurangannya adalah Anda harus mengeluarkan biaya ekstra yang nilainya cukup tinggi tersebut yaitu 0.5% /tahun dari Nilai Dinar Anda.

Ketiga : adalah Dinar Anda di –Qirad-kan ke Nur Dinar,

Keuntungan program ini adalah Dinar Anda menjadi produktif dan tumbuh secara halal karena melalui perdagangan yang riil. Pertumbuhan ini insyaallah akan selalu lebih dari cukup untuk mencover biaya-biaya penyimpanan, asuransi dan lain sebagainya.

Keuntungan lain dari pilihan ketiga ini adalah dapat menjadi jawaban bagi yang ingin mulai hijrah ke Dinar namun kawatir menyimpan Dinar secara berlebihan karena dapat masuk dalam katagori menimbun, dengan di -Qirad-kan akan lebih aman (dari ancaman menimbun) karena berarti Dinar-nya telah menjadi barang dagangan atau investasi yang riil dalam bentuk harta yang berputar.

Kekurangan dari Dinar yang di-Qirad-kan adalah Dinar tidak dapat diambil setiap saat, apabila Dinar mau diambil diluar jatuh tempo masa perjanjian Qirad yang disepakati – pemilik Dinar perlu bersabar kurang lebih satu bulan sebelum memperoleh Dinarnya kembali. Hal ini karena kemungkinan Dinar yang di-Qirad-kan sedang beredar atau sedang dalam proses pencetakan kembali.

Jadi dengan plus-minus masing-masing pilihan tersebut; masyarakat dapat memilih mana yang paling pas untuk Dinar-nya.

Senin, 25 Juli 2011

Pentingnya menyimpan emas

oleh ; Aceng husen

Kisah seseorang dari Cirebon

Orang tua saya adalah pedagang kelontong dan sembako, ayah meninggal dunia th 1982 dan ibu meninggal th 1985.

ketika ibu meninggal umur saya 2 tahun, pada tahun 2005 / 20 tahun setelah ibu meninggal, saya bermaksud merehab rumah peninggalan dari orang tua saya, saya kaget karena dibelakang lemari tua, saya menemukan uang logam rupiah seluruhnya berjumlah Rp 4.000.000 yang ditempatkan di 4 kaleng susu yang sudah karatan.

Ketika saya mengikuti ceramah tentang Mata Uang Islam Dinar & Dirham saya memperoleh pengetahuan bahwa jika th 1985 uang Rp 4 juta oleh ibu saya dibelikan emas yg pada waktu itu harga pergramnya Rp 4.000. maka ibu saya meninggalkan emas untuk saya 1000 gram / 235 keping dinar.

Artinya sayapun baru menyadari bahwa seandainya uang peninggalan dari ibu itu berupa uang yg bahan dasarnya emas seperti Dinar maka di th 2005 nilainya telah menjadi Rp 200.000.000. karena harga emas pergram th 2005 Rp. 200.000

Saudara saya mengkisahkan Th 1985 dg uang Rp. 4.000.000,- bisa membangun rumah besar dengan menghabiskan semennya saja 200 zak semen gresik.

Minggu, 24 Juli 2011

Mendekatkan Jarak Antara ‘Mimpi’ dan Visi...

oleh : Muhaimin Iqbal

Ketika saya menulis “Bermimpi Mengatur Negeri, Agar Negeri Tidak (Jadi) Bangkrut”, seperti sudah saya antisipasi - pasti banyak yang protes – meskipun juga sangat lebih banyak lagi yang setuju. Yang protes ini antara lain men-challenge saya bagaimana anak-anak di seluruh negeri belajar dengan guru yang tinggal seperlimanya ?, bagaimana pasien rumah sakit ditangani oleh perawat dan dokter yang tinggal seperlimanya ?, bagaimana keamanan masyarakat terjaga dengan polisi yang tinggal seperlimanya ? dan seterusnya – yang tentu saja protes atau pertanyaan semacam ini sangat valid.

Maka saya ‘bermimpi’ untuk kedua kalinya agar lebih jelas solusi-solusi dari berbagai contoh permasalahan konkrit tersebut. Namun tetap perlu diingat – bahwa sejelas-jelas-nya mimpi tetap tidak akan sejelas visi – mimpi tetap mimpi – tidak bisa diperdebatkan benar tidaknya, akurat tidaknya, applicable tidaknya – lha wong namanya juga mimpi !. Mimpi berguna untuk kita bisa punya inspirasi lain – yang tidak biasa – yang lahir dari luar konteks pemikiran normal kita.

Kadang ‘mimpi-mimpi’ ini perlu, karena ketika negeri dijalankan dengan pemikiran ‘normal’ - hasilnya adalah seperti apa yang diungkapkan harian Kompas 3 hari lalu; negeri ini bertaburan dengan lembaga – ternyata ada 116 Lembaga diluar Kementerian saja !. Dengan begitu banyaknya lembaga dan Kementerian-pun, menurut ungkapan yang pas dari Ketua Mahkamah Konstitusi – negara masih seakan tidak hadir !.

Di ‘mimpi’ kedua ini saya hidup di ‘Negeri Google’ yang bertetanggaan dengan ‘Negeri Facebook’, namanya juga ‘mimpi’ – kejadian demi kejadian bermunculan tanpa sequence yang jelas, beberapa diantaranya adalah :

Saya kembali ke masa sekolah, tetapi sekolah saya tidak seperti sekolah saya yang dahulu – duduk di kelas di bangku yang itu-itu dan diajar oleh guru yang itu – itu. Di ‘Sekolah Negeri Google’ Saya bisa duduk di mana saja – di belahan dunia manapun – tidak harus di dalam kelas. Guru-guru saya adalah para ahli di berbagai bidang yang membagi ilmunya secara gratis melalui system yang diciptakan oleh ‘Negeri Google’. Bahkan saya bisa ‘magang’ dan memperoleh ‘mentor’ langsung dari para pelaku usaha, para ulama yang shaleh , para ilmuwan, para ekonom yang semuanya dengan mudah saya rangkai melalui jalinan pertemanan yang disediakan oleh negeri tetangga ‘ Negeri Facebook’.

Dalam kejadian lain, keponakan saya menderita penyakit yang aneh – maka dalam ‘mimpi’ saya Bapak dari anak ini dapat berkonsultasi dengan berbagai dokter spesialis di seluruh ‘Negeri Google’ dan ‘Negeri Facebook’, tidak hanya sekedar berkonsultasi gratis – tetapi juga melakukan diagnosa jarak jauh, rekomendasi berbagai tes laboratorium – dan baru ketika diperlukan tindakan medis – dibawa ke klinik yang paling sesuai. Dengan pendekatan media ini, route penanganan suatu penyakit yang tidak biasa-pun dapat dilakukan secara jauh lebih efisien dari sisi waktu, biaya dan juga tenaga medis yang jauh lebih sedikit jumlahnya.

Dalam kejadian lain lagi, masyarakat di komplek yang tidak jauh dari rumah saya resah karena banyaknya pencurian mobil. Ndilalah-nya salah satu dari mobil-mobil yang dicuri tersebut menyimpan chip GPS yang tersembunyi. Maka polisi ‘Negeri Google’ dapat melacak perjalanan mobil yang dicuri ini sampai tempat persembunyiannya. Ketika di gerebek di lokasi, ternyata di lokasi tersebut terkumpul sejumlah mobil curian lain. Maka berawal dari GPS yang bisa diikuti di Google Map ini, polisi dapat bekerja sangat efisien untuk mencegah kejahatan. Banyak efisiensi pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa difasilitasi oleh system di ‘Negeri Google’ ini.

Lantas kemana guru-guru yang tidak mengajar, para dokter dan paramedis yang tidak lagi praktek; polisi-polisi yang tidak lagi turun ke jalan ?. Merekalah yang saya sebut ‘solusi’ dalam mimpi saya yang sebelumnya, orang-orang yang secara umum berada di atas ‘rata-rata’ warga ‘Negeri Google’ ini dapat berkarya lebih jauh di berbagai bidang spesialisasi masing-masing atau berbagai bidang baru yang perlu penanganan di negeri ini. Ketika sebagian kecil masyarakat menjadi sangat produktif di satu bidang, tidak berarti sebagian besarnya menjadi menganggur – mereka juga akan ketularan produktifnya atau setidaknya mendekatinya – sehingga secara keseluruhan – out-put ‘Negeri Google’ menjadi sangat besar.

Sebelum sempat mengalami kejadian-kejadian lainnya, saya ingin cepat bangun dari ‘mimpi’ dan siap mulai menghadapi dunia yang nyata. Bisakah kejadian-kejadian dalam ‘mimpi’ tersebut kita realisisir di jaman ini di negeri ini ?. Adakah yang bisa kita mulai sekarang untuk mulai merubah keadaan ?. Bila perubahan bisa dilakukan, apakah kita yang akan berperan dalam merubahnya, atau orang lain yang akan melakukannya ?. Apakah kita yang akan menjadi pelaku perubahan itu atau kita yang menjadi korbannya ?.

Lalu saya melihat dunia di sekitar saya, apa yang sekarang sudah dimulai, sudah dicoba dan sudah memberikan tanda-tanda hasil ?, dari sini barangkali kita bisa melihat bahwa masa depan itu benar-benar mulai bisa kita ubah.

Di Masjid kami ada sejumlah orang pinter beneran - ada sejumlah Doktor dari berbagai bidang keilmuan, di antara mereka ada yang mendirikan apa yang disebut Madrasah TechnoNatura di bawah payung yayasan CREATE (Centre for Research on Education, Arts, Technology and Entrepreneurship). Dalam usianya yang belum juga satu dasawarsa, madrasah yang satu ini kinerja-nya sungguh luar biasa.

Anak-anak setingkat SMP dan SMA dari Madrasah ini sanggup bersaing ketat dengan mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta pada final Indonesian Lifestyle Automation Competition. Karena prestasinya pula, proyek sains dan rekayasa technologi dari beberapa siswi mereka yang diberi nama EcoBot dan TBot pernah mengisi acara inspiratif Metro TV – Kick Andy. Bila Anda melihat ‘sekolah’ mereka yang letaknya hanya beberapa langkah dari Masjid kami tersebut, Anda akan terbawa ikut optimis bahwa masa depan ‘Negeri Google’ atau ‘Negeri Facebook’ seperti dalam mimpi saya tersebut diatas bisa benar-benar terjadi di tangan anak-anak seperti siswa-siswi madrasah TechnoNatura ini.

Lebih hebat lagi keberhasilan TechnoNatura dengan kurikulum yang luar biasa ini – tidak hanya available untuk 120-an siswa terpilih di Madrasah tersebut, tetapi bisa juga untuk ratusan ribu atau bahkan jutaan anak-anak Muslim di seluruh negeri bahkan juga dunia. Proyek yang mereka beri nama TechnoNatura Cyber School sekarang sudah bisa mulai di uji coba oleh siapa saja yang membutuhkannya !. Lantas siapa bilang bahwa jumlah guru harus sebanyak yang ada sekarang ?.

Justru dengan memberi peluang anak-anak usia muda ini berinteraksi langsung dengan sejumlah ahli dibidangnya – seperti para Doktor yang terlibat langsung di madrasah TechnoNatura – anak-anak bisa menjadi jauh lebih cepat menguasai berbagai ilmu dan teknologi yang sangat dibutuhkan di era ini. Di masa-masa kejayaan Islam dahulu, ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin besar juga dibina langsung oleh ulama-ulama besar sebelumnya – sedari usia yang sangat muda. Jadi belajar langsung dari para ahlinya inilah yang akan membangun generasi unggul yang akan datang, dan ini sekarang menjadi sangat-sangat mungkin dengan bantuan teknologi informasi ala Google, Facebook dlsb.

Jarak antara ‘mimpi’ dan visi itu kadang bisa dibuat begitu dekat – perhatikan ‘mimpi’ sekolah saya tersebut diatas dengan apa yang sudah dicapai oleh TechnoNatura ini !. Maka ketika kita berani ‘bermimpi’ – kita juga bisa mulai mem-visi-kan perubahan-perubahan besar dalam hidup kita itu, sebaliknya bila ber-‘mimpi’-pun kita tidak berani – perubahan apa yang bisa kita harapkan ?. Wa Allahu A’lam.